Latest Entries »

Pengertian Tadjwid

A.        Pengertian Tadjwid :
Tajwid menurut bahasa adalah tahsin : memperbaiki atau mendatangkan bacaan dengan baik. Sedangkan menurut istilah adalah Ilmu yang mempelajari cara mengucapkan huruf-huruf Al Qur an tentang tebal dan tipisnya, panjang dan pendeknya, sifat-sifatnya, dan hukum membaca huruf Hijaiyah bila bertemu dengan huruf yang lain. Sehingga menjadi suatu bacaan yang baik.

 

B.    Kegunaan Ilmu Tadjwid
Kegunaan dari mempelajari Ilmu Tajwid adalah :
1. Agar tidak ada kesalahan dalam membaca ayat-ayat Allah (Al Qur an)
2. Agar aya-ayat yang kita baca sesuai dengan ketentuan-ketentuan bahasa Arab, baik cara pengucapan huruf, sifat-sifat huruf dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh Ulama Ahli Qurro.

 

C. Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid
Hukum mempelajari ilmu Tajwid adalah Fardu kifayah, sedangkan mengamalkannya adalah Fardlu Ain bagi setiap orang yang membaca Al Qur an.
Dalam hal ini Imam Ibnu Jazari mengatakan :

Menggunakan atau mengamalkan Ilmu tajwid aaalah merupakan suatu keharusan, maka barang siapa yang tidak memperbaiaki bacaan Al Qur a nya dia termasuk berdosa.”

 

D. Qiro’ah
Seperti apa yang kita baca dan yang pernah kita dengar, bahwa Qiroah (bacaan) ayat-ayat Al Quran yang berlaku di negara Indonesia adalah Qiro’ah yang diriwayatkan oleh Hafs Bin Sulaiman bin Mughiroh bin Najwad “ Wafat tahun 128 H”, yang bacaannya disebut Qiroah Masyhuroh.
Perlu diketahui bahwa selain qiroah yang diriwayatkan oleh Imam Hafs an Ashim masih banyak lagi Imam yang meriwayatkan Qiro’ah .
Dibawah ini nama-nama Imam dalam qiro’ah Yang mutawatiroh atau yang disebut dengan Qiroah sab’ah ( Qiro’ah tujuh imam ) :
1. Abdullah bin Amr meninggal di Syam pada tahun 118 H. Perowi-perowinya yang terkenal (masyhur) adalah seperti Al Bazzi Abdul Hasan Hamid bin Muhammad dan Qonbul Abu Umar Muhammad.
2. Abu Ma’bad Abdullah bin Katsir, meninggal di Makkah pada tahun 120 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abu Bakar Syu’bah bin Ilyas dan Abu Amr Hafah bin Sulaiman.
3. Abu Bakar “Ashim bin Abi An Nujud, meninggal di Kufah pada tahun 127 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abu Syu’bah bin Ilyas dan Abu Amr Hafah bin Sulaiman
4. Abu Amr bin Al A’la, meninggal di Basrah pada tahun 154 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Ad Durawi, Abu Amr Hafas dan As Susi Abu Syu’aib Saleh bin Ziyad.
5. Nafi’ bin Na’im meninggal di Madinah tahun 109 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Qulum Abu Musa Isa bin Mina dan Warosy Abu Sa’id Utsman bin Sa’id.
6. Abdul Hasan Ali bin Hamzah Al Kisa’i, meninggal di Basrah pada tahun 189 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abdul Harits Al Laits bin Khalid dan Ad Durawi.
7. Abu “Imarah Hamzah bin Habib, meninggal tahun 216 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam dan Abu ‘Isa Khalid bin Khalid.

 

E. Methode Membaca Al Qur an
Perlu diingat bagi para Qori’, bahwa didalam membaca Ayat-ayat Al Qur an itu sendiri ada tata caranya (ukuran lambat dan cepat dalam membaca ayat Al Qur an) yang disahkan oleh Rasulullah SAW., begitu juga yang diberlakukan dikalangan para Ahlul Qurro’ wal Ada’ ada empat yaitu :
1.Tahqiq : Membaca Al Qur an dengan menempatkan hak-hak huruf yang sesungguhnya. Yaitu menempatkan makhrorijul huruf, sifat-sifat huruf, mad-qoshr dan hukum-hukum bacaan yang telah ditetapkan oleh Ulama Ahlul Qurro’. Methode ini baik sekali untuk kalangan Mubtadiin (pemula).
2.Tartil : Membaca Al Qur an dengan pelan-pelan dan tanpa tergesa-gesa dengan memperhatikan makhrorijul huruf, sifat-sifat huruf, mad-qoshr dan hukum-hukum bacaan, sehingga suara bacaan menjadi jelas. Seperti bacaan Mahmud Al Qushairi. Bacaan Tartil belum tentu tahqiq akan tetapi tahqiq sudah pasti tartil.
3.Tadwir : Membaca Al Qur an antara bacaan yang cepat dengan bacaan yang pelan (sedang).
4.Hadr : Membaca Al Qur an dengan sangat cepat , sehingga seakan-akan tidak jelas dalam suaranya.
Demikianlah beberapa methode membaca Al Qur an yang ada, dari masing masing methode harus menggunakan kaidah-kaidah Tajwid yang berlaku ( ketika seorang Qori’ membaca lambat atau cepat ), sehingga kesempurnaan bacaan masih tetap dan utuh. Sedangkan cara membaca yang terbaik adalah dengan methode yang pertama yaitu Tahqiq.

Hukum Nun Mati dan Tanwin

A. Pengertian
Yang dimaksud dengan tanwin adalah :

“ Tanwin adalah nun mati yang ada pada akhir kalimat isim didalam melafadhkannya atau menyuarakannya tapi bukan didalam tulisannya.”
B. Pembagian Hukum Nun Mati dan Tanwin

dalam hukum nun mati dan tanwin نْ – ً ٍ ٌ jika bertemu dengan huruf hijaiyah yang berjumlah dua puluh delapan terkecuali alif yakni :
ء ب ت ث ج ح خ د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل م ن و هـ ي
Akan menimbulkan empat hukum bacaan yaitu Idhar Halqi, Idghom, Iqlab dan Ikhfa Haqiqi.
Alif itu tidak menerima harokat (mati) sedangkan hamzah menerima harokat.

1.Idhar
Menurut bahasa (etimologi) adalah jelas atau tampak
Menurut istilah (terminologi) adalah melafadhkan huruf idhar dari makhrojnya dengan suara jelas atau terang dengan tanpa disertai mendengung (bilaghunnah)
Jumlah huruf idhar ada enam yaitu : ء هـ ع ح غ خ
Dinamakan Halqi dikarenakan keenam huruf tersebut tempat keluarnya adalah berada di tenggorokan
Kaidah Idhar Halqi
Jika ada nun mati atau tanwin yang bertemu dengan salah satu dari huruf halaq yang enam tersebut, maka harus dibaca dengan suara terang atau jelas, baik bertemunya itu dalam satu kalimat atau dilain kalimat.
Contoh :
Satu kalimat
Nun mati dan tanwin tidak satu kalimat
َانْعَمْتَ    منْ ءَا َمنَ    رَسُوْلٌ أمِيْنٌ   مِنْهُمْ   اِنْ هُوَ    سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ   يَنْحِتُوْنَ   منْ عِلْمٍ   غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ   يَناْءَوْنَ    مِنْ حَسَنَةٍ   قَوْمٌ خَصِمُوْنَ   فَسَيُنْغِضُوْنَ   مِنْ غِلٍّ   عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ   يَنْهَوْنَ   منْ خَيْرٍ   عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ   و المُنْخَنِقَةُ   مَنْ خَافَ    عَذَا بٌ أَ لِيْمٌ

2. Idghom
Idghom menurut bahasa adalah memasukkan sesuatu kepada sesuatu
Idghom menurut istilah terminologi adalah bertemunya huruf yang mati dengan huruf yang hidup, sehingga ketika dibaca akan serupa dengan huruf yang bertasydid.
a. Pembagian Idghom
Idghom dalam bab nun mati dan tanwin terbagi menjadi dua yaitu :
1. Idghom Bighunnah (idghom naqish)
2. Idghom Bilaghunnah (idghom kamil)

b. Macam-Macam Idghom
1. Idghom bighunnah :
Yaitu apabila ada nun mati atau tanwin yang bertemu dengan salah satu huruf empat, yaitu : ي, ن , م , و
Cara membacanya : Huruf pertama yang berupa nun mati dan tanwin dimasukkan ke huruf yang kedua dengan disertai dengung (brengengeng).
Idghom artinya memasukkan sesuatu kepada sesuatu
Bi Ghunnah artinya dengan disertai suara dengung.
Contoh : منْ وَّرَاءِ هِمْ , هُدىً ِمنْ رَّبِّهِمْ , حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لكُمْ
Pengecualian
Idhar wajib : Apabila ada nun mati yang bertemu dengan huruf wawu atau ya’ dalam satu kalimat, maka yang demikian itu harus dibaca dengan terang atau jelas. Dikarenakan jika diidghomkan takut menyerupai dengan huruf Mudhoaf (huruf dua yang sama) Contoh : دُنْيَا , بُنْيَا نٌ , صِنْوَا نٌ , قِنْوَانٌ
2. Idghom bila ghunnah
Apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu dari dua huruf yaitu : ل dan ر
Cara membacanya : Huruf pertama yang berupa nun mati atau bertanwin dimasukkan kesalah satu dari dua huruf dengan tidak disertai suara dengung ( Bilaghunnah ).
Contoh : ِمنْ رَّ ِبّهِمْ , غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ , هُدىً لِّلْمُتَّقِيْنَ , يُبَيِّنْ لَكُمْ
3. Iqlab
Arti menurut bahasa yaitu membalik atau menukar. Sedang menurut istilah adalah menjadikan huruf pada tempatnya huruf yang lain disertai dengan dengungan (ghunnah).
Apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf ب
Cara membacanya huruf pertama yang berupa nun mati atau tanwin diganti/ditukar menjadi suara mim karena bertemu dengan huruf ب
Contoh: منْ بعْدِ , ينْبُتُ , سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ

4. Ikhfa’
Apabila ada nun mati atau tanwin yang bertemu dengan salah satu huruf lima belas yaitu:

دُمْ طَيِّباٌ زِدْ فِى تُقىً ضَعْ ظَا لماً جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَا اَ كَمْ ثَن صِفْ ذَا
Cara membacanya: Huruf pertama yang berupa nun mati atau tanwin dibaca dengan suara samar karena bertemunya dengan salah satu huruf lima belas tersebut.
Cara membaca ikhfa dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
1. Aqrob (اقرب) adalah yang lebih dekat dengan idhar yaitu membacanya seperti idhar tetapi disertai dengung sehingga menjadi samar. Adapun hurufnya ada tiga yaitu ت , ط , د .
Contoh : ُمنْتَهُوْنَ , يَنْطِقُوْنَ ,
2. Ab’ad (ابعد) adalah yang lebih jauh dari idhar yaitu ketika membaca sangat nampak dengungnya atau samarnya sehingga suara nun mati atau tanwin menjadi hilang sama sekali. Adapun hurufnya ada dua yaitu ق dan ك Contoh : منْ قبل, منْك
3. Ausath (اوسط) adalah pertengahan antara ikhfa’ aqrob dan ikhfa’ ab’ad dalam hal kesamaran membacanya. Adapun hurufnya ada satu yaitu ف . Contoh : ِمنْ فَضْل الله
Sedangkan selain dari huruf Ikfa’ Aqrob, Ab’ad dan Ausath boleh dibaca dengan dua wajah yaitu Aqrob atau Ausath
Contoh : إِنْ جآءَ كم , يَنْظُرُوْنَ

Hukum Mim Mati, Ghunnah, Idghom, Qolqolah, Lam Mati dan Al Ta’rif

A.Mim Mati
Apabila ada mim yang mati dan bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah, maka akan mempunyai tiga hukum bacaan yaitu :
1.Idghom Mimi
2.Ikhfa’ Syafawi
3.Idhar Syafawi
a. Idghom Mimi
Apabila ada mim yang mati bertemu dengan huruf م
Cara membacanya : Mim pertama yang mati dimasukkan pada mim yang kedua dengan disertai suara mendengung (Ghunnah).
Dinamakan Mimi karena bertemuanya dua huruf yang sama yaitu dua mim. Idghom ini juga dinamakan Idghim Mutamatsilain “dua huruf yang sama”. Contoh: ولَكُمْ مَا فِى الأَرْضِ ,لهَمُْ مَا يَشَاءُ
b. Ikhfa’ Syafawi
Apabila ada mim mati yang bertemu dengan huruf ب .
Contoh : وَ هُمْ بِا الأ خِرَةِ ,
Cara membacanya atau melafadhkan huruf yang mati yaitu mim yang sunyi dari tasydid dan disertai dengan suara dengung (Ghunnah).
Dinamakan Syafawi karena tempat keluarnya huruf ba’ dan mim itu adalah pada dua bibir
c. Idhar Syafawi
Apabila ada mim yang mati bertemu dengan semua huruf Hijaiyyah selain huruf Idghom Mimi dan Ikhfa’ Syafawi (mim dan ba’), baik dalam satu kalimat atau dilain kalimat.
Cara membacanya, mim yang mati harus dibaca dengan suara jelas atau terang terutama huruf itu adalah fa’ dan wawu sebab kedua huruf itu tempat keluarnya sama-sama berada dibibir.
Contoh : هُمْ فِيْهَا خَا ِلدُ وْنَ , هُمْ يُنْفِقُوْنَ

B. Hukum Mim dan Nun yang Bertasydid (Ghunnah)
Apabila ada huruf mim dan nun yang bertasydid, maka cara membacanya harus dibaca dengan suara dengung.
Tempat membunyikan Ghunnah adalah ada pada janur hidung sehingga terkesan bunyinya seperti suara orang yang bindeng. Untuk lebih jelas lagi yaitu dengan sedikit menutup lubang hidung, sehingga akan terasa sekali getaran suara dengung pada janur hidung.
Lama dengungnya adalah sekitar satu alif atau dua harokat.
Contoh :بِرَ بِّ النَّا سِ , ثمّ , ِإنّّ
C. Idghom
a. Definisi Idghom
Idghom menurut bahasa /etimologi adalah memasukkan sesuatu kepada sesuatu
Idhghom menurut istilah terminologi adalah bercampurnya dua huruf yang sama (yang pertama mati / sukun yang kedua hidup), baik huruf itu semisal, sejenis atau berdekatan makhorijul dan sifatnya sehingga sekiranya menjadi huruf satu dan ketika dibaca akan serupa dengan huruf yang bertasydid.
b. Pembagian Idghom
Menurut ittifaq ulama Qurro’, idghom ini dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Idghom Mutamatsilain
2. Idghom Mutaqoribain
3. Idghom Mutajanisain
Lebih lanjut akan diterangkan dibawah ini
1. Idghom Mutamatsilain
Yaitu apabila ada dua huruf yang sama baik makhroj dan sifatnya seperti ba’ mati bertemu dengan ba’ atau dal mati bertemu dengan dal, maka harus diidghomkan menurut kesepakatan Ulama’ Qurro’, baik bertemunya dalam satu kalimat atau lain kalimat.
Contoh : َيغْتَبْ بَعْضُكُمْ , يُوَجِّهْهُ
Yang demikian itu terkecuali huruf mad yaitu ya’ mati bertemu dengan ya’ jatuh setelah kasroh dan wawu yang mati jatuh setelah dhommah bertemu dengan wawu, sebagaimana kesepatan ulama qurro’. Hal ini dikarenakan agar sifat huruf mad itu masih tetap dan tidak hilang. Contoh : ِفىْ يَوْ مٍ , قَالُوْا وَهُمْ
Idghom Mutamatsilain dibagi terbagi menjadi dua bagian yaitu :
a.Idghom Mutamatsilain Shoghir ( dua huruf sama dalam satu kalimat/lain kalimat dan tidak didahului oleh mad ).
Contoh : اِضْرِبْ بِّعَصَاكَ الحَجَرَ
b.Idghom Mutamatsilain Kabir ( dua huruf sama lain kalimat dan sama-sama hidup) Contoh

هُدًى , الرَّحِيْمِ ملك فِيْهِ
Tetapi menurut Qiroah yang diriwayatkan oleh Hafs an Ashim tidak meriwayatkannya atau tidak membaca dengan Idghom Mutamatsilain Kabir
2. Idghom Mutajanisain

yaitu apabila ada dua huruf yang sama dalam makhrojnya akan tetapi berbeda dalam sifatnya. Seperti dal bertemu ta’, ta’ bertemu dal dan sebagainya.
Contoh : َيلْهَثْ ذّالِكَ , قَدْ تَّبَيّنَ , اَ ثْقَلَتْ دَّعَوَالله
Adapun kalimat ِاِرْكبْ مَّعَنَاmenurut Imam Hafs ‘an Syathibi disertai dengan mendengung, sedangkan lafadh َبسَطْتَ dibaca dengan Idghom Naqish. Yaitu sifat huruf tho’ {Isti’la’) masih tetep tampak.
3. Idghom Mutaqoribaini

yaitu apabila ada dua huruf yang berdekatan baik makhrojnya maupun sifatnya .
Contoh : قُلْ رَّبِّ , اَلمْ نخْلُقْكُمْ
D. Qolqolah
Qolqolah menurut etimologi berarti mengguncang atau memantulkan, sedang menurut terminologi adalah memantulkan bunyi hurus qolqolah ketika mati atau ketika diwaqofkan. Hurufnya ada lima yaitu :
ق ط ب ج د
Sedangkan qolqolah itu dibagi menjadi dua :
1.Qolqolah kubro,

yaitu apabila ada huruf qolqolah yang berharokat sukun, sebagai ganti (iwadh) karena diwaqofkan.
Contoh: عَذَابٌ menjadi عَذَابْ
2.Qolqolah Shughro,

yaitu apabila ada huruf qolqolah yang berharokat sukun yang asli (bukan karena waqof).
Contoh : يَقْطَعُوْنَ , يَجْعَلُوْنَ , يَدْعُوْنَ
E. Cara Membaca Lam Mati
a.Apabila terdapat lam mati baik dalam kalimat isim, kalimat huruf atau kalimat fi’il, maka secara mutlak harus diidharkan
Contoh
Huruf
Isim
Fi’il
هلْ يستطيع

b. Apabila ada lam mati bertemu dengan huruf ro’ atau lam baik berupa kalimat fi’il (fi’il madhi atau fi’il amar) atau kalimat huruf, maka wajib diidghomkan.
Contoh
Fi’il Amar
Kalimat Huruf
قُلْ رَبِّ
هلْ لَكُمْ
بَلْ رَفَعَ
Kecuali kalimat بلْ سكتة ران (bahkan berkata) menurut Imam Hafs an Ashim dibaca saktah (berhenti sejenak tanpa nafas) yaitu terdapat padasurat Al Muthoffifin ayat 14. Agar tidak meyerupai dengan lafadh برّ ا ن (dua orang yang baik).
F. Alif dan Lam ( ال )
Alif dan lam yang sambung dengan kalimat isim, maka akan menimbulkan dua bacaan yaitu:
1. Idhar Qomariyah
Apabila ada al Ma’rifah yang sambung dengan huruf qomariyah yang terkumpul dalam :

بغِ حَجَّكَ وَخَفْ عَقِيْمَهُ أَ ْ,

maka cara membacanya yaitu lam dibaca dengan jelas atau terang.
Contoh. الحَمدُ ,
2. Idghom Syamsiyah
Apabila terdapat al ta’rif yang sambung dengan huruf syamsiyah yang terkumpul dalam :
 رَحِمًا تَفَزَّ ضف ذَا ِنعَمٍ دَعْ سُوْءَ ظَنٍّ زُرْشَرِيْفَا لِلْكِرَامِ ثُمَّ صِلْ طِبْ
Cara membacanya yaitu apabila ada huruf al bertemu dengan salah satu huruf syamsiyah, maka huruf-huruf tersebut harus dibaca dengan tasydid.
Contoh. الرَّحِيْمُ, الصَّا لِحُوْنَ, السَّارِقُ

Hukum Membaca Lam Jalalah dan Ro’


A. Lam Jalalah

Menurut Hafs, bahwa semua lam yang ada didalam Al Qur an adalah dibaca tarqiq atau tipis kecuali lam yang terdapat dalam lafadh Allah (lafdhul jalalah) harus dibaca dengan taghlidh berat atau tebal.
Adapun tebalnya lam pada lafdhul jalalah itu terbatas yakni ketika lafadh Allah itu jatuh setelah harokat Fathah atau dhommah. Alasan dibaca tebal adalah menandakan akan keagungan Dzat Allah.
Contoh. وَاللّهُ سَمِيْعٌ , يَوْمَ يَجْمَعُ اللّه
Sedangkan apabila lafadh Allah jatuh setelah harokat kasroh tetap dibaca tarqiq atau tipis. Alasannya adalah karena sulit untuk diucapkan.
Contoh : ولِلّهِ, أمِ اللّهِ

B. Hukum Membaca Ro’
Hukum membaca ro’ itu ada dua yaitu :
1. Tafkhimur Ro’
Ro’ yang dibaca berat yaitu ketika mengucapkan huruf ini, maka bibir yang bawah terangkat naik. Sedangkan ukuran getaran ro’ paling banyak adalah tiga getaran atau boleh kurang dari tiga getaran dan tidak boleh lebih dari tiga getaran..
Adapun ciri-ciri ro’ yang dibaca tebal adalah sebagai berikut :
a. Ro’ yang berharokat fathah atau dhommah. Contoh : رَحْمَةٌ, رُبَمَا
b. Ro’ mati jatuh setelah harokat fathah atau dhommah (baik ro’ sukun asli atau karena waqof. Contoh : يَرْزُقُ, يُرْزَقُون
c. Ro’ mati jatuh setelah harokat kasroh dan bertemu dengan huruf isti’la’ dalam satu kalimat (karena tinggi dan beratnya huruf isti’la’). Jumlah hurufnya ada tujuh yaitu yang terkumpul dalam lafadh خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ .
Contoh: لبِالمِرْ صَادِ , مِنْ كلِّ فِرْ قَةٍ , Tetapi jika ro’ mati jatuh setelah kasroh dan meskipun bertemu dengan huruf isti’la’, tetapi tidak dalam satu kalimat, maka ro’ tetap dibaca tipis.
Contoh : فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا
d. Ro’ mati didahului oleh hamzah washol ( baik harokat fathah, dhommah atau kasroh), baik harokatnya itu asli atau aridli.
Contoh : اِرْ جِعىِ, الذىارْ تَضىَ
2. Tarqiqurro’ Ro’
a.Semua ro’ yang berharokat kasroh, baik diawal kalimat, tengah kalimat atau akhir kalimat. Semua itu baik dalam kalimat Isim atau kalilmat Fi’il. Contoh : كَافِرِيْنَ , أرِنَا الّذين
b.Ro’ mati jatuh setelah harokat kasroh asli dan sambung sekaligus tidak bertemu dengan salah satu huruf Isti’la’ dalam satu kalimat. Contoh : وقَالَ فِرْعَوْنُ, واصْطَبِرْ
c.Semua Ro’ yang mati tidak asli (karena waqof) baik ro’ berharokat fathah, dhommah atau kasroh dan selama ro’ tidak jatuh setelah harokat fathah atau dhommah.
Contoh. السّحْرُ, السَّرَا ئِرْ
d. Ro’ mati jatuh setelah harokat kasroh meski bertemu dengan huruf isti’la’ tetapi tidak dalam satu kalimat.
Contoh : ولاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ
e. Ro’ mati sebab waqof dan didahului oleh ya’ mati.
Contoh : خَيْرٌ, خَبِيْرٌ
3. Ro’ yang boleh dibaca dengan dua cara.
a.Ro’ sukun karena waqof dan jatuh setelah kasroh yang terpisah dengan huruf isti’la’ yaitu pada lafadh عَيْنَ القِطْرِ dan .مِصْرَ Sedangkan cara yang bagus membacanya adalah, untuk lafadh مِصْرَ dibaca tebal karena jika dibaca ketika washol, maka ro’ dibaca dengan tebal. Sedangkan lafadh عَيْنَ القِطْرِ dibaca tipis sebab jika diwasholkan dibaca tipis sebab berharokat kasroh.
b. Lafadh كُلُّ فِرْ قٍdibaca tebal karena ro’ sukun dan bertemu dengan huruf isti’la’. Dibaca tipis karena karena huruf isti’la’ (qof) berharokat kasroh.
4. Ro’ yang bertasydid
a.Jika kita menjumpai ro’ yang bertasydid, maka cara membacanya yaitu dengan menyamarkan suaranya ro’ (kira-kira paling banyak tiga getaran). Contoh : الرَّحيْمُ
b.Ro’ dibaca tipis sebab ro’ tasydid berharokat kasroh .
Contoh : الرِّ جَالُ
c.Ro’ dibaca antara tebal dan tipis yaitu apabila ro’ bertasydid yang berharokat kasroh jatuh setelah harokat fathah. Contoh حَرِّقُوْهُ
d.Ro’ dibaca antara tipis dan tebal yaitu apabila ro’ bertasydid baik berharokat fathah atau dhommah jatuh setelah harokat kasroh. Contoh. بسْمِ اللّه الرّحمن الرّحيم

Macam-Macam Mad Beserta Ukuran Panjangnya

A. Pengertian Mad
Mad menurut bahasa adalah memanjangkan atau sesuatu yang memanjang. Menurut pendapat yang lain adalah Az Ziyadah yaitu sesuatu yang tambah. Sedangkan menurut Istilah adalah memanjangkan suara huruf dari huruf-huruf mad.
Adapun huruf-huruf mad yaitu:
1. Alif mutlak jatuh setelah fathah contoh: قَا لَ , مُوْسى
2. Wawu mati jatuh setelah dhommah contoh: قُوْلُوْا , كونُوْا
3. Ya’ mati jatuh setelah kasroh contoh : أ مِنِيْنَ
Sedangkan jumlah huruf Al Lain yaitu ada dua : wawu dan ya’ mati jatuh setelah harokat fathah. Contoh : خَوْفٌ , قَوْمَيْنِ
B. Mad Asli atau Mad Thobi’i
a.Pengertian Mad Asli atau Thobi’i
Yaitu apabila ada wawu mati ( وْ) jatuh setelah dhommah, ya’ mati يْ)) jatuh setelah kasroh dan (ا ) alif jatuh setelah fathah dan tidak bertemu dengan sukun dan hamzah. Panjangnya yaitu satu alif atau dua harokat. Contoh : نُوْ حِيها
Dinamakan mad asli sebab panjang dari mad ini adalah sesuai dengan dasarnya (redaksi), sedangkan dinamakan Thobi’i (sebangsa karakter) karena sifat mad atau panjangnya ini adalah pasti , yaitu satu alif. Bagi seorang qori’ diharamkan untuk mengurangi atau menambah panjang mad ashli atau mad thobi’i.
b. Pembagian Mad Thobi’i atau Asli
Mad Thobi’i Asli dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Mad Thobi’i Dhohiri
Yaitu apabila dari ketiga huruf mad tersebut jelas dalam penulisannya, sehingga dapat diketahui langsung. ( posisi wawu mati jatuh setelah dhommah, ya’ mati jatuh setelah kasroh dan alif jatuh setelah fathah). Contoh lafadh : نُوْ حِيها
2. Mad Thobi’i Muqoddar
Mad Thobi’i Muqoddar (dikira-kirakan) yaitu dalam membacanya dibaca dengan suara panjang tapi penulisan hurufnya tidak tampak. Hal ini dikarenakan ada kaitannya dengan arti dan memang demikian penulisan dari khot Utsmani.
Contoh lafadh الله , الرحمن seluruh ulama membaca panjang pada huruf lam dan mim.
3. Mad Thobi’i Harfi
Yaitu panjang yang ada pada nama-nama huruf hijaiyyah ( asmaul huruf ). Dalam hal ini akan kita temukan pada pembukaan surat-surat ( fawatihussuar ). Hurufnya terkumpul dalam kalimat : حيٌ طَهُرَ. Contoh الم , طه, حم

C. Mad Far’i
Adapun yang dimaksud dengan mad far’i adalah cabang dari mad asli karena adanya sebab-sebab tertentu. Mad far’i ini terbagi menjadi empat belas bagian yang akan dijelaskan satu persatu dibawah ini :

1. Mad Wajib Muttashil
Pedoman : Apabila ada mad thobi’i atau mad ashli bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat. Contoh : جاء , سوء , هنيئاً
Ukuran panjangnya : Menurut Hafs an Ashim adalah dua setengah alif (dua setengah alif) atau lima harokat. Sedangkan menurut Imam yang lain ada yang membaca dengan tiga alif (Imam Warosy, Imam Hamzah). Dua alif dan satu setengah alif (Qolun, Ibn Katsir dan Abu Amr)
Pengertian
Wajib: Karena Ulama Qurro’ sepakat ( ijma’ ) memanjangkan mad ini dari mad aslinya .
Muttashil: Karena bertemunya mad thobi’i itu adalah dalam satu kalimat.
2. Mad Jaiz Munfashil
Pedoman : Apabila ada mad thobi’i atau mad ashli bertemu dengan hamzah dilain kalimatUkuran Panjangnya ada tiga pendapat yaitu :
a.Wajib dibaca Qoshr seperti mad asli yaitu satu alif. Hal ini menurut pendapat Imam Al Bazzi Qonbul dan as Susi ‘an Abi Amin.
b.Wajib dibaca panjang seperti panjang yang ada pada Mad Wajib Muttashil (tiga alif, dua alif, dua setengah alif, satu setengah alif)
c.Dua wajah yaitu Qoshr (satu alif) atau mad (dua setengah alif)
3. Mad Aridh Lissukun
Pedoman : Apabila ada huruf mad asli bertemu dengan huruf mati, yang matinya (tidak asli) sebab diwaqofkan (berhenti).

Ukuran Panjangnya ada tiga yaitu :
a.Satu alif karena bertemunya mad asli itu dikarenakan waqof (berhenti), jadi meskipun waqof, maka tidak bisa merubah panjangnya mad asli.
b.Dibaca dua alif karena sukunya itu bukan sukun yang asli (sebab waqof) dan cara membacanya tetap dibawah bacaan mad Lazim.
c.Dibaca tiga alif sebab dikiyaskan/disamakan dengan bacaan mad Lazim.
Dari beberapa pendapat tentang ukuran panjang mad Aridsl lissukun yang paling banyak dipergunakan adalah yang membaca dengan tiga alif termasuk di Indonesia. Contoh: هم يُنْفِقونَ, الحمد لله ربّ العا لمين

4. Mad Badal
Pedoman : Yaitu apabila ada dua hamzah yang kumpul dalam satu kalimat, maka hamzah yang kedua diganti dengan huruf yang sesuai dengan harokat pertamanya (sejenis) yaitu :
a. Jika dua hamzah berharokat fathah, maka hamzah yang kedua diganti dengan alif . Contoh: ءَ امَنَ asalnya ءَءْ من
b. Jika dua hamzah berharokat dhommah, maka hamzah yang kedua diganti dengan wawu . Contoh : اُوْ تُوُا asalnya ءُ ؤْ توا
c. Jika dua hamzah berharokat kasroh, maka hamzah yang kedua diganti dengan ya’. Contoh : اِْيما نًا asalnya إئْمانًا
Lama membacanya (panjangnya) adalah satu alif atau dua harokat.
Dinamakan mad badal karena huruf yang kedua (alif, wawu dan ya’) adalah sebagai ganti dari hamzah

5. Mad Lain Aridly
Pedoman : Yaitu apabila ada Huruf Al Lain (wawu dan ya’ yang mati jatuh setelah fathah) yang bertemu dengan sukun yang tidak asli (sebab waqof)
Ukuran panjangnya adalah satu,dua dan tiga alif.
Contoh : مِنْ خَوْفٍ, عَيْنَيْنِ,
Keterangan
Dinamakan aridli (baru datang) karena bacaan ini timbul atau terjadi bila diwaqofkan/berhenti (huruf yang terakhir menjadi sukun/mati), akan tetapi jika diwasholkan/terus maka dibaca dengan suara lunak. (tanpa panjang)
6. Mad Iwadl
Pedoman yaitu apabila ada isim yang alamat nashobnya memakai tanwin “fathatain” (selain fathatainnya ta’ ta’nis yang mufrod mahal nashob) dan berada pada perwaqofan/berhenti, maka huruf yang bertanwin itu dihilangkan tanwinnya.
Contoh : سَمِيْعًا عَلِيْمًا, قَوْ لًا كَريْماً
Panjanganya harus satu alif tidak kurang dan tidak lebih.
Dinamakan Iwadl sebab panjangnya adalah ganti dari isim mahal nashob (fathatain)
Keterangan
Dalam penulisan khot Utsmani biasanya huruf akhirnya diberi alif dan ada sebagian kecil saja yang tidak memakai alif,
Seperti : رِجَا لًا كَثِيراً ونساءً
Mad ini berlaku jika ada pada waqof, tapi jika diteruskan maka hukum membacanya disesuaikan dengan huruf sesudahnya .
7. Mad Tamkin
Tamkin artinya adalah menetapkan. Yaitu apabila ada ya’ yang tasydid berharokat kasroh jatuh setelah ya’ mati dalam satu kalimat/perkataan. Contoh : أمِّيِّيْنَ, واذا حيّيْتم panjangnya adalah satu alif
8. Mad Shilah Qoshiroh
Apabila ada ha’ dhomir mufrod mudzakkar ghoib berupa huruf hidup jatuh setelah huruf yang hidup dan tidak bertemu dengan hamzah atau sukun, maka dibaca panjang. Contoh : إنّهُ بعبا دهِ خبيرُ
Lama membacanya satu alif atau dua harokat.
9. Mad Shilah Thowilah
Apabila ada ha’ dhomir ghoib mufrod mudzakar yang hidup bertemu dengan hamzah khoto’ dan tidak bertemu dengan huruf yang mati. Contoh : من دُوْنِهِ إِلها , يَشْفَعُ عِنْدَهُ إلا
Lama membacanya dua alif atau dua setengah alif (lima harokat), jika dibaca waqof maka ha’ dlomir tersebut dibaca sukun.
Pengecualian Mad Shilah
a.Ha’ dibaca pendek karena sebelum hak dhomir ada huruf mati yang dibuang (menjadi jawab syarat) berupa wawu, yaitu pada kalimat :
وإِنْ تَشْكُرُوا يَرْ ضَهُ لَكُمْ (surat Az- Zumar ayat 7 juz 23)
b.Ha’ dibaca panjang karena tauqifi (didalam Al Qur an menurut Imam Hafs an Ashim ada satu) yaitu فيه مُهَاناً ( Surat Al Furqon ayat 69 juz 19 )
c.Ha’ dibaca pendek karena bukan ha’ dhomir seperti : َما نَفْقَهُ كَثِيْراً (S-Hud:91)
d.Ha’ dlomir dibaca panjang jika washol tapi jika waqof ha’ dlomir menjadi mati. Contoh. ِمنْ عِلْمِه , يَعْلَمُوْنَه
e.Huruf sebelum ha’ dhomir berupa huruf hidup sedang sesudahnya berupa huruf mati . Contoh. لهُ اْلحُكْمُ , لهُ الأََ سمَاءُ maka dibaca pendek.
f. Huruf sebelum ha’ dhomir berupa huruf mati sedang sesudahnya berupa huruf hidup . Contoh. فِيْهِ هُدًى , خُذُوْهُ فاعتِلُوهmaka dibaca pendek.
10. Mad Lazim Kilmi Mutsaqqol
Apabila ada mad asli yang bertemu dengan huruf yang bertasydid dalam satu kalimat, maka dibaca panjang ( tiga alif atau enam harokat ). Contoh : الحآ قّةُ, ولا الضآلّيِنَ
Lazim berarti semua ulama qorro’ membaca dengan lebih panjang dari mad asli ( satu alif)
Kilmi berarti bertemunya mad dengan tasydid itu dalam satu kalimat.
Mutsaqqol berarti disamping dibaca panjang juga disertai dengan suara yang berat ( membutuhkan tekanan ) ketika mad asli itu bertemu dengan huruf yang bertasydid.
Keterangan
Meskipun ada mad asli dan bertemu dengan tasydid akan tetapi bukan dalam satu kalimat, maka kalimat ini tetap dibaca pendek.
11. Mad Lazim Kilmi Mukhoffaf
Apabila ada mad yang bertemu dengan sukun dalam satu kalimat/perkataan, maka harus dibaca panjang dan tidak boleh diidghomkan. Didalam Al Qur an hanya ada dua yaitu :
a. آلأنَ وَقَدْ كُنْتُمْ ( Surat Yunus ayat 51 )
b. آلأنَ وَقَدْ عصيتُ ( Surat Yunus ayat 91)
Mukhoffaf artinya dibaca dengan ringan.
12. Mad Lazim Harfi Mukhoffaf
Mad ini hanya terdapat pada pembukaan awal surat (fawatihussuar). Sedangkan cara membacanya ada dua yaitu :
a. Dibaca seperti mad thobi’i (satu alif). Hurufnya terkumpul dalam Hayyun Thohuro. Contoh : mÛ, §„
b. Dibaca seperti mad lazim (tiga alif). Hurufnya terkumpul pada سَنَقُصُّ عِلْمَكَ. Contoh :Èêg., ن , ق
13. Mad Lazim Harfi Mutsaqqol
Apabila ada mad yang bertemu dengan huruf yang bertasydid dalam fawatihussuar, maka harus dibaca panjang (tiga alif) dan disertai dengan tebal. Contoh : O¦Û
14. Mad Farqi
Apabila ada hamzah istifham bertemu dengan huruf yang mati, maka hamzah dibaca panjang (tiga alif) yaitu :
1. ُقلْ آلذَّكَرَْينِ dua tempat pada surat Al An’am :143, 144
2. آالله خير surat Al –Naml : 59
3. قل آاللهُ أَذِنَ لكم surat Yunus :59
4. آالأن surat Yunus : 91
Keterangan
Mad ini dalam kategori mad lazim.
Dibaca mad adalah untuk membedakan antara hamzah istifham dengan kalam khobar.

A. Huruf-huruf Al Qur an
Tempat keluarnya huruf hijaiyyah yang jumlahnya ada dua puluh sembilan. Seorang qori’ perlu mengetahui tentang huruf-huruf Al Qur an yang mutawatir dan bersumber dari Nabi Muhammad SAW. Menurut bacaan mayoritas dinegara Indonesia yaitu Qiro’ah yang diriwayatkan oleh Imam Hafs an Ashim Al Kufi.
Jika dilihat dari segi bacaannya “Qiroahnya” secara mutawatiroh yaitu bacaan yang bersumber dari Rasulullah SAW, maka huruf-huruf Al Qur an itu terdiri dari beberapa bagian yaitu disamping dua puluh sembilan huruf juga masih ditambah dengan cabang-cabangnya yang juga merupakan huruf-huruf yang diajarkan oleh Nabi dan dari masing-masing huruf tersebut mempunyai ketentuan-ketentuan makhroj dan sifat-sifatnya sendiri-sendiri.
Sedangkan huruf yang merupakan cabang dari huruf hijaiyyah dalam qiro’ah riwayat Hafs an Ashim terbatas pada beberapa tempat saja yaitu :
1.Tashil artinya mudah atau ringan, terdapat pada surat Fushshilat ayat 44 juz 24. yang berbunyi ااعجَمِيٌّ وعرَبيٌّ
2.Imalah artinya condong antara fathah dan kasroh, terdapat pada surat Hud ayat 41 juz 12 yang berbunyi : مَجْرا يها
3.Isymam Artinya mencampur atau mengumpulkan, terdapat pada surat Yusuf ayat 11 juz 12 yang berbunyi لاتَأْ منَّا
4.Lam Taghlidh yaitu lam yang harus dibaca dengan tebal atau berat khususnya yang terdapat pada Lam Jalalah yang jatuh setelah harokat fathah atau dhommah. Seperti :اللّهُ لاَإِ لهَ ِالاَّ هُوَ
B.Makhorijul Huruf
Pembahasan ini adalah yang paling penting didalam ilmu tajwid, karena tanpa mengetahui makhorijul huruf, maka seorang Qori’ (orang yang akan membaca ayat Al Qur an) dikhawatirkan salah dalam mengartikan tentang kandungan arti harfiahnya, karena perlu diketahui bahwa dari sekian huruf hijaiyyah masing-masing mempunyai tempat keluar huruf sendiri-sendiri dan ciri-ciri sifat yang bermacam-macam, maka diharapkan kepada qori’ untuk menguasai satu persatu dari makhorijul huruf dan bahkan wajib untuk bisa mempraktekannya. Hal ini seperti ditegaskan oleh As Syams Al Jazari didalam muqoddimahnya yang artinya :
“ Suatu kewajiban bagi seorang Qori’ dalam membaca Al Qur an yaitu lebih dahulu mengetahui ilmu atau seluk beluk jalan keluar suara huruf dan berbagai sifat-sifatnya agar mereka dapat membaca dengan baik dan fasih”.
Menurut pendapat yang masyhur (terkenal) yaitu pendapat Syaikh Kholil bin Ahmad Nahwy dan kebanyakan Ahlul Qurro’ dan Ahli Nahwu termasuk ibn Jazari, bahwa jumlah makhorijul huruf secara terperinci terbagi menjadi tujuh belas tempat sedang jika disederhanakan, maka menjadi lima bagian yaitu :

1. Al Jauf (lubang Hidung)
2. Al Halqu (kerongkongan)
3. Al Lisan (lidah)
4. Asy Syafatain (Dua bibir)
5. Al Khoisyum

Jika terdapat huruf yang sama dalam makhrojnya, maka dalam hal ini yang bisa membedakan adalah sifat-sifatnya.
Dibawah ini kami sebutkan masing-masing makhorijul huruf :
1. Al Jauf

            yaitu lubang antara mulut dan tenggorokan hingga penghabisan udara adalah tempat keluarnya huruf Mad dan Lain (lunak). Adapun hurufnya adalah :
a. Alif Mutlaq Contoh خَافَ , عَصى
b. Wawu sukun (mati) jatuh setelah dhommah. Contoh : قُوْمُوا , كُوْنُوا
c. Ya’ sukun jatuh setelah kasroh. Contoh : رَ حِيْم , كَرِيْمٌ
d. Huruf al Lain yang berjumlah dua yaitu :
1. Wawu mati jatuh setelah fathah. Contoh : الخَوْف ُ, القَوْلُ
2. Ya’ mati jatuh setelah fathah. Contoh : عَيْنَيْن
Huruf-huruf tersebut dinamakan Jaufiyyah artinya huruf-huruf sebangsa lubang hidung.
Catatan
Pada dasarnya huruf mad itu hanya satu yaitu alif mutlak dan adapun wawu dan ya’ dibaca mad hanya tertentu saja yaitu ketika keduannya harus mati, tapi jika keduanya berharokat (hidup), maka makhorijul hurufnya bukan Jauf tapi sudah berdiri sendiri yaitu ditengah-tengah lidah untuk ya’ dan wawu ada dikedua bibir.
Alif Muthlaq adalah bahwa selamanya bila disebut alif, maka selamanya adalah sukun atau mati. Alif ini tidak bisa dibaca terkecuali dirangkai dengan huruf yang lain.
Alif dibagi menjadi dua :
1. Alif Mamdudah (yang dipanjangkan) Contoh : قَال , خاَف
2. Alif Layyinah (lunak). Contoh : موسى , عيسى
2. Al Halqu
Dalam kerongkongan ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
a.Aqsho (bagian pangkal/bawah) hurufnya ada dua yaitu ( ء – هـ) : keluar dari tenggorokan paling bawah yang mendekati dengan dada (dada ikut sedikit bergetar ketika melafadhkan) dan keduanya termasuk huruf yang paling bawah tempat keluarnya.
b.Wasath (bagian tengah) hurufnya ada dua ( عdan ح); keluar dari tenggorokan yang tengah tepat.
c.Adna (bagian ujung/atas) hurufnya ada dua ( غ dan خ)
Keenam huruf itu dinamakan Halqiyyah (huruf sebangsa tenggorokan)
3. Al Lisan
Secara global di bagian lidah ini terbagi menjadi empat bagian yaitu :
a. Aqsho Lisan (pangkal lidah); hurufnya ada dua yaitu :
1.ق Keluar dari pangkal lidah dekat dengan anak lidah dan mengarah keatas serta menepati dengan langit-langit mulut atas.
2.ك Keluar dari pangkal lidah mengarah kebawah serta menepati dengan langit-langit mulut atas.
Kedua huruf tersebut dinamakan lahawiyyah artinya huruf sebangsa telak lidah
b. Wasth Lisan ( Tengah-tengah lidah ), hurufnya ada tiga yaitu : ج, ش, ي
Keluar tepat di tengah-tengah lidah serta menepati dengan langit-langit mulut atas. Ketiga huruf ini dinamakan syajariyyah (huruf sebangsa tengah lidah).
c. Hafah (Tepi lidah), hurufnya ada satu yaitu ض keluar dari pangkal tepi lidah (sebelah kanan atau kiri) hingga sambung dengan tempat keluarnya huruf lam serta mengarah ke gigi graham. Huruf ini dinamakan Janbiyyah artinya huruf sebangsa tepi lidah).
Catatan
Menurut Ibnu Jazariyah huruf ini mudah dilafadhkan dengan menggunakan tepi lidah yang sebelah kiri sedangkan lidah yang kanan agak sulit begitu juga kalau menggunakan kedua tepi lidah (kanan dan kiri), baik yang kanan atau yang kiri.
d. Thorfu Lisan (bagian ujung lidah), jumlah hurufnya ada dua belas dan dikelompokkan lagi menjadi empat bagian yaitu :

 

I.         Dzalqiyyah (huruf sebangsa ujung lidah) hurufnya ada tiga yaitu :

1.      ل Keluar dari ujung tepi lidah samping kanan atau kiri dan menepati dengan langit-langit mulut atas.

2.      ن Keluar dari ujung lidah lebih masuk kedasar lidah (bawahnya huruf lam) dan menepati dengan langit-langit mulut atas.

3.      ر Keluar dari ujung lidah lebih masuk kedasar lidah (bawahnya huruf nun) dan menepati dengan langit-langit mulut atas.
Ketiga huruf tersebut dinamakan dzalqiyyah artinya huruf sebangsa ujung lidah.

 

II.        Nath’iyyah ( huruf sebangsa kulit gusi atas ) hurufnya ada tiga yaitu ت, د, ط keluar dari ujung lidah serta menepati dengan pangkal gigi depan yang atas.
Ketiga huruf ini dinamakan nath’iyyah artinya huruf sebangsa kulit gusi atas

 

III.        Asaliyyah ( huruf sebangsa runcing lidah ) hurufnya ada tiga : yaitu ز , س , ص keluar dari ujung lidah serta menepati dengan ujung gigi taring dua yang bawah.
Ketiga huruf ini dinamakan asaliyyah artinya huruf sebangsa runcing lidah.

 

 

 

IV.     Litsawiyyah ( huruf sebangsa gusi ) hurufnya ada tiga yaitu: ذ , ث , ظ keluar dari ujung lidah dan menepati dengan ujung gigi depan yang atas.
Ketiga huruf ini dinamakan litsawiyyah artinya huruf sebangsa gusi.
4. Asy Syafataini ( dua bibir ) terbagi menjadi dua yaitu :
1. Bibir yang bawah hurufnya ada satu yaitu ف . Keluar dari ujung gigi yang atas serta menempel dengan bibir bagian yang bawah.
2. Dua bibir (atas dan bawah) hurufnya ada tiga yaitu م , ب dan و: Keluar dari antara bibir dua (atas dan bawah). Untuk م dan ب ketika melafadhkan kedua bibir tertutup sedangkan wawu kedua bibir agak merenggang dan mecucu.
Keempat huruf tersebut dinamakan syafawiyyah artinya huruf sebangsa bibir.
5. Al Khoisyum (janur hidung) yaitu tempat keluarnya huruf ghunnah (نّ dan مّ). Ketika melafadhkan hidung seakan terasa bergetar.
D. Isthilah dari pembagian nama-nama Makhoirijul Huruf
Jaufiyyah        : artinya huruf-huruf sebangsa lubang hidung.
Halqiyyah       : artinya huruf sebangsa tenggorokan
Lahawiyyah    : artinya huruf sebangsa telak lidah
Janbiyyah       : artinya huruf sebangsa huruf tepi lidah
Syajariyyah    : artinya huruf sebangsa tengah lidah.
Dzalqiyyah      : artinya huruf sebangsa ujung lidah
Litsawiyyah    : artinya huruf sebangsa gusi.
Nath’iyyah      : artinya huruf sebangsa kulit gusi atas.
Asaliyyah        : artinya huruf sebangsa runcing lidah.
Asy syafataini: artinya dua bibir
Al khoisyum   : artinya janur hidung


A. Pengertian Waqof, Qotho’ dan Ibtida’
Waqof menurut bahasa adalah berhenti. Sedangkan menurut istilah adalah menghentikan suara dan perkataan sebentar (menurut adat) untuk bernafas bagi Qori’ dengan niat untuk melanjutkan bacaan selajutnya dan bukan berniat untuk meninggalkan bacaan (Qoth’) yang biasanya disunnahkan dengan membaca tashdiq.
Qhoto’ menurut bahasa adalah memotong, sedangkan menurut istilah adalah menghentikan bacaan sama sekali sesudah memotong bacaan, maka gari qori’ jika hendak membaca lagi dia disunnahkan isti’adzah.
Ibtida’ menurut bahasa adalah memulai, sedangkan menurut istilah adalah memulai bacaan sesudah seorang qori mewaqofkan bacaanya.
Keterangan
Pada hakikatnya waqof ini adalah berhenti pada akhir ayat atau berhenti pada tengah-tengah ayat (untuk mengambil nafas). Baik ibtidak maupun waqof boleh dilakukan dengan tanpa merusak arti.
Secara umum berhenti atau waqof adalah ada pada akhir ayat. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Umi Salamah yang artinya “Bahwa Rasulullah saat membaca Al Qur an, maka beliau berhenti disetiap akhir ayat dan memulai lagi pada permulaan ayat”. Meskipun dari segi artinya masih ada hubungannya, maka sah-sah saja (boleh/jawaz) Qori’ berhenti dengan tanpa mengulang dengan ayat yang sesudahnya, sebagaimana pendapat Ulama Ahlul Qorro’. Karena Rasulullah sendiri terkadang juga berhenti pada waqof hasan.
B. Pembagian Waqof
Secara garis besar waqof terbagi menjadi empat yaitu :
1. Waqof Idlthirori ( اضْطِرَارى )artinya terpaksa, yaitu dilakukan seorang qori’ dikarenakan kehabisan nafas, batuk lupa dan sebagainya.
2. Waqof Inthidhori ( انتِظارى ) artinya berhenti menunggu; yaitu Qori berhenti pada sebuah kata yang perlu untuk menghubungkan dengan kalimat wajah yang lain (menurut- versi bacaan-bacaan imam sab’ah) karena adanya perbedaan riwayat.
3. Ikhtibari ( اختِبَارِى ) artinya berhenti untuk diuji, yaitu ketika qori’ diuji untuk menerangkan al Maqthu’ (kata terpotong), ketika ditanya seorang juri. Atau boleh bagi seorang pengajar Al Qur an memutus-mutus ayat pada anak didiknya (untuk memudahkan).
4. Ikhtiyari ( اختِيَارِى ) artinya berhenti yang dipilih, adalah waqof yang ada unsur kesengajaan, bukan karena sebab-sebab yang tersebut diatas. Waqof Ikhtiyari ini dibagi menjadi empat bagian yaitu:

a. Waqof Tam ( وقف تام )
Berhenti pada perkataan yang sempurna susunan kalimatnya dan tidak ada kaitan dengan kalimat yang sesudahnya, baik lafadh maupun maknanya. Waqof ini tempatnya bermacam-macam yaitu :
1. Kebanyakan ada di akhir ayat
2. Di akhir ayat Qishos (cerita). Al Baqoroh ayat 5 : وَاُولئك هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ
3. Ada ditengah-tengah ayat :لقد أَضَلّنِي عَنِ الذِّ كْرِ بَعْدَ اِذْ جَاءَ نِى dan dilanjutkan dengan Firman Allah َوكَا نَ الشَّيْطَانُ لِلْإِ نْسَانِ خَذُوْ لاً Al Furqon ayat 19
4. Di akhir ayat ditambah sedikit awal ayat.
Contoh : وإِ نَّكُمْ لَتَمُرُّوْن عَلَيْهِمْ مُصْبِحِيْنَ () وَبِا لَّليْلِ (As Shoffat ayat 138)
5. Terdapat pada arti ayat مَا لِكِ يَوْ مِ الدِّ يْنِ
6. Terdapat sebelum yak nida, fi’il amar, qosam dan lam qosam
وَكَانَ الله ُ, وَمَا كَانَ الله ُ, ذلك , لَوْ لاَ

 

b. Waqof Kafi ( وقف كافى )
Berhenti pada perkataan yang sempurna susunan lafadh atau kalimatnya (i’robnya), akan tetapi masih ada kaitan arti/makna dengan kalimat sesudahnya. Jika berhenti disini, maka seorang Qori’ tidak perlu lagi mengulangi dengan kalimat sesudahnya. Contoh :
1. Diakhir ayat وَمِمَّا رَزَقْنَا هُمْ يُنْفِقُوْنَ ( اليقرة )
2. Dipertengahan ayat : فِى قُلُوْ ِبِهمُ العِجْلَ بِكُفْرِهِمْ (كف) قُلْ بِئْسَمَا
3. Jika ada banyak waqof kafi dalam satu ayat, maka yang lebih utama berhenti pada waqof kafi yang terakhir Contoh : فِى قُلُوْبِهِم مَرَضٌ (كف) dilanjutkan فَزَا دَهُمُ اللهُ مَرَضًا (lebih kafi) بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ ( lebih kafi dari keduanya)

c. Waqof Hasan ( وقف حسن )
Berhenti pada akhir kalimat yang telah sempurna susunan kalimatnya, akan tetapi masih ada hubungannya baik dari segi lafadh ataupun maknanya dengan kalimat sesudahnya.
Hukum berhenti pada waqof hasan adalah boleh dan baik tanpa mengulangi dengan kalimat sesudahnya contoh : الحمدُ لله ِ berhenti dan meneruskan pada ربِّ العَا لَمِيْنَ tidak apa-apa tapi jika nafas masih panjang lebih baik untuk meneruskannya.
Boleh mengulangi/ibtida’ pada kalimat sesudahnya, jika berhentinya bukan ro’sul ayat. Contoh الحمدُ لله
Sebaiknya bagi seorang qori’ yang nafasnya masih kuat untuk meneruskannya, maka lebih baik tidak berhenti pada waqof ini.

d. Waqof Qobih ( وقف قبيح )
Berhenti sebelum sempurna susunan kalimatnya, baik lafad atau bahkan maknanya. Seperti berhenti pada kalimat ملك pada ayat ملك النا س karena keduanya adalah susunan idhofiyyah
Waqof pada إلاّ contoh : إِنّ الإِنْسَانَ لَفِى خُسْرٍ () الاّ berhenti dan mengulang dari kalimat إلاّ .
Hukum waqof ini adalah tidak boleh, terlebih jika ia dengan sengaja berhenti, padahal dia mengetahui akan ketidak bolehannya, maka haram hukumnya dan murtad karena jelas dengan sengaja ia mempermainkan firman Allah.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: